Naik gunung bagi saya adalah masuk dalam kategori hobi tidak sederhana. Belum melakukannya saja sederet periapan dan peralatan harus lengkap sedia. Ransel kapasitas puluhan liter, tenda, sepatu trekking, jaket, kantung tidur berbahan polar, matras, hingga sarana penunjang macam kamera untuk memenuhi keperluan dokumentasi. Di gunung, saya menemukan pemandangan indah, dan unik yang tidak bisa saya temukan di bawah. Jadi kamera yang mumpuni wajib sekali ada dalam deretan gear di tas saya. Biasanya, sih, starter pack kamera saya itu satu buah action cam, dan mengandalkan kamera ponsel. Waktu itu pernah bawa DSLR ke gunung, tapi rusak karena tidak tahan dingin yang ekstrim. Ahirnya beli kamera aksi, deh. Dulu hanya modal googling untuk mencari spek dan harga kamera sesuai kebutuhan saya. Kini sudah ada pricebook.co.id, enak tinggal compare harga kamera yang sama antara toko online, dan offline. So, bisa tinggal comot harga terbaik secara realtime. Akurasinya juga bisa dipertanggungjawabkan karena pricebook.com bekerjasama dengan e-commerce market leader di Indonesia, dan 1000 toko offline di kota-kota besar Nusantara. Dan bukan hanya kamera, bisa juga dicari perbandingan harga barang elektronik lain semisal ponsel, tablet, sampai power bank.
Ketidaksederhanaan lain saat mendaki gunung adalah kesiapan fisik yang menuntut untuk selalu dalam kondisi di puncak performance. Banyak pendaki yang gagak ke puncak karena di tengah pendakian terkena hipotermia, cedera kaki, sampai masuk angina. Berbeda dengan model traveling lainnya yang kalau capek tinggal istirahat, beli minum, atau tinggal tidur di hotel. Di gunung semuanya serba terbatas. Istirahat paling mewah adalah selonjoran di tanah datar, bawah pohon rindang, dan beratapkan selembar fly sheet. Itu pun masih harus berjuang menahan dingin.
Lalu ada variabel lain berupa ketidakpastian cuaca. Sampai basecamp pendakian hati senang nan riang karena matahari bersinar tak kalah semangat dengan para pendaki. Awan-awan serupa kapas seperti menjanjikan adanya pemandangan spektakuler di atas sana. Namun apalah daya, ketika sampai di atas cuaca penuh kabut sehingga yang dijumpai hanyalah warna putih menuju kelabu. Ini belum termasuk jika datang hujan lalu mengubah medan pendakian menjadi sungai kecil penuh lumpur. Dan yang teburuk, badai angin sanggup menerbangkan tenda-tenda pendaki.
Kemudian, memilih partner dalam mendaki juga bukan perkara mudah. Uniknya naik gunung adalah, kita berada dalam situasi serba terbatas. Tetapi, karakter kepribadian seseorang akan tertarik tanpa batasan sekat hingga ke titik maksimal. Yang ketika di bawah mungkin kesehariannya pendiam, bisa jadi ketika di gunung menjadi periang karena begitulah watak aslinya. Yang apes kalau kebagian partner dengan sifat kurang bagus dan tidak terlihat ketika di bawah. Setelah sampai di atas, baru tahu kalau dia malas, jorok, gampang tersinggung, dan egois. Hal-hal seperti itu bisa bikin keseruan naik gunung berkurang banyak jika kita tidak mengurangi ego untuk menerimanya.
Soal makan bagaimana? Ya seadanya juga. Yang pening kebutuhan kalori agar tubuh tetap bertenaga dan hangat selalu tercukupi. Biasanya bawa beras. Tapi karena masaknya hanya memakai kompor gunung dan nesting, kadang-kadang nasinya kurang tanak. Bisa tidak matang, atau justru terlalu matang. Di gunung mah enak-enak saja! Bahan makanan instan dan kalengan sangat membantu demi menjaga cita rasa. Jangan khawatir tidak bisa memasak. Saya pun bingung ketika di gunung saya bisa bikin telur balado, padahal biasanya bisa bikin telur mata sapi dengan kuning tertata rapih saja saya sudah merasa sejajar dengan Gordon Ramsay. Jangan pernah remehkan the power of perut lapar di gunung. Everything is possible!
Dan keterbatasan paling menonjol jika di gunung adalah, akses terhadap teknologi dan komunikasi. Komunikasi betul-betul putus tanpa sisa karena biasanya sinyal ponsel sudah lenyap begitu mulai mendaki ketinggian. Kecuali kita membawa telepon satelit. Untuk teknologi, barang tercanggih yang bisa saya bawa adalah kamera, dan ponsel. Ini penting untuk keperluan dokumentasi perjalanan saya dalam bentuk foto atau video.
Ketidaksederhanaan lain saat mendaki gunung adalah kesiapan fisik yang menuntut untuk selalu dalam kondisi di puncak performance. Banyak pendaki yang gagak ke puncak karena di tengah pendakian terkena hipotermia, cedera kaki, sampai masuk angina. Berbeda dengan model traveling lainnya yang kalau capek tinggal istirahat, beli minum, atau tinggal tidur di hotel. Di gunung semuanya serba terbatas. Istirahat paling mewah adalah selonjoran di tanah datar, bawah pohon rindang, dan beratapkan selembar fly sheet. Itu pun masih harus berjuang menahan dingin.
Lalu ada variabel lain berupa ketidakpastian cuaca. Sampai basecamp pendakian hati senang nan riang karena matahari bersinar tak kalah semangat dengan para pendaki. Awan-awan serupa kapas seperti menjanjikan adanya pemandangan spektakuler di atas sana. Namun apalah daya, ketika sampai di atas cuaca penuh kabut sehingga yang dijumpai hanyalah warna putih menuju kelabu. Ini belum termasuk jika datang hujan lalu mengubah medan pendakian menjadi sungai kecil penuh lumpur. Dan yang teburuk, badai angin sanggup menerbangkan tenda-tenda pendaki.
Kemudian, memilih partner dalam mendaki juga bukan perkara mudah. Uniknya naik gunung adalah, kita berada dalam situasi serba terbatas. Tetapi, karakter kepribadian seseorang akan tertarik tanpa batasan sekat hingga ke titik maksimal. Yang ketika di bawah mungkin kesehariannya pendiam, bisa jadi ketika di gunung menjadi periang karena begitulah watak aslinya. Yang apes kalau kebagian partner dengan sifat kurang bagus dan tidak terlihat ketika di bawah. Setelah sampai di atas, baru tahu kalau dia malas, jorok, gampang tersinggung, dan egois. Hal-hal seperti itu bisa bikin keseruan naik gunung berkurang banyak jika kita tidak mengurangi ego untuk menerimanya.
Soal makan bagaimana? Ya seadanya juga. Yang pening kebutuhan kalori agar tubuh tetap bertenaga dan hangat selalu tercukupi. Biasanya bawa beras. Tapi karena masaknya hanya memakai kompor gunung dan nesting, kadang-kadang nasinya kurang tanak. Bisa tidak matang, atau justru terlalu matang. Di gunung mah enak-enak saja! Bahan makanan instan dan kalengan sangat membantu demi menjaga cita rasa. Jangan khawatir tidak bisa memasak. Saya pun bingung ketika di gunung saya bisa bikin telur balado, padahal biasanya bisa bikin telur mata sapi dengan kuning tertata rapih saja saya sudah merasa sejajar dengan Gordon Ramsay. Jangan pernah remehkan the power of perut lapar di gunung. Everything is possible!
Dan keterbatasan paling menonjol jika di gunung adalah, akses terhadap teknologi dan komunikasi. Komunikasi betul-betul putus tanpa sisa karena biasanya sinyal ponsel sudah lenyap begitu mulai mendaki ketinggian. Kecuali kita membawa telepon satelit. Untuk teknologi, barang tercanggih yang bisa saya bawa adalah kamera, dan ponsel. Ini penting untuk keperluan dokumentasi perjalanan saya dalam bentuk foto atau video.
Siapa tau ada yang ngabarin, ye, kan... |
Yakin deh, kalau melihat pemandangan dari atas gunung siapa pun tidak akan tahan untuk berdiam diri dan mengabaikannya. Menangkap citra lanskap, atau sesekali narsis swafoto dengan background hijau savanna atau putih hamparan awan, adalah keniscayaan tidak terhindarkan. Masalahnya kadang suka khilaf, dan kalap hingga tidak terasa daya batere kamera atau ponsel tandas di tengah sesi foto. Mau mengisi daya lewat steker listrik jelas tidak bisa, PLN cukup waras untuk tidak mengalirkan listrik ke atas gunung.
Satu-satunya jalan ya keharusan membawa powerbank. Dan ada, setidaknya, dua gadget yang mesti saya isi dayanya, yaitu ponsel dan kamera. Belum lagi kalau ada teman yang pinjam. Jadi butuh powerbank dengan penyimpanan daya cukup besar. Kalau cari spesifikasi power bank yang cocok dan enak buat naik gunung sih hanya ada satu nama, VIVAN. Yang model VIVAN POWER ELITE MF20 sudah mengakomodir kebutuhan daya gadget para pendaki. Jangankan ponsel dan kamera, powerbank ini bisa membangkitkan TV LED, lampu belajar, printer, hingga refrigator portable. Gokil! Saya bisa leluasa bawa chargable baterai untuk senter, headlamp, atau lampu tenda. Pendeknya, dengan kemampuan seperti di atas, memiliki VIVAN Powerbank seperti menggenggam accu portable dalam genggaman untuk keadaan darurat listrik, kapasitasnya 20,800 mAh! Bisa jadi power bank laptop juga, tidak perlu khawatir memilih café ada colokannya atau tidak kalau butuh tempat tenang untuk kerja atau blogging. Pride yang didapat dengan memiliki VIVAN adalah, ini powerbank pertama yang mampu mengisi daya laptop. Ada garansinya loh kalau rusak bukan karena human error.
VIVAN Power Bank |
VIVAN Power Bank |
Untuk pendaki gunung, efektifitas dan efisiensi ruang dalam ransel adalah hal mutlak. VIVAN Power Bank ini punya dimensi ramping sehingga hemat ruang dalam tas. Bobotnya pun ringan untuk ukuran pengisi daya portable berkekuatan besar, yakni hanya 1,88 Kg.
VIVAN Power Bank |
Jadi kalau hiking ke gunung lagi untuk keperluan elektrikal sudah bukan isu besar lagi. Senangnya =)
naik gunung baru sekali, tapi pengalaman sampai ke puncak itu luar biasa bangetttt....
ReplyDelete